Categories Daerah

Kisah Guru Honorer di Mabar, Menempuh Jalan Berlumpur Menuju Sekolah

TERNYATA masih banyak cerita-cerita miris wajah dan nasib para pendidik di dunia pendidikan yang datang dari berbagai daerah. Baik soal akses jarak ke sekolah yang tidak mendukung, fisik bangunan sarana pendidikan maupun nasib para pendidiknya.

Seperti perjalanan seorang guru yang tinggal di Kampung Norang, Desa Gurung, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Seorang guru muda bernama Marianus Yuda, S.Pd (26) yang kesahariannya adalah Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di SMK Negeri 2 Welak, Desa Wewa, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat.

Lalu bagaimana sebenarnya kondisi pahlawan tanpa tanda jasa itu?
Rian (26) begitu ia disapa oleh masyarakat setempat. Dia anak paling bungsu dari 9 bersaudara, sekarang dia dan saudaranya tinggal bersama ibu di Kampung Norang, sedangkan sang ayah sudah meninggal 3 tahun yang lalu.

Rian, asal Kampung Norang yang merupakan bagian dari Dusun Watu Norang, Desa Gurung, letaknya kurang lebih 4 kilo meter dari pusat kantor desa, tepatnya di Lempa, Desa Gurung, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat.

Tidak seperti kampung-kampung lainnya yang insfratuktur jalannya sudah beraspal, Kampung Norang masih jalan bebatuan dan berlumpur.

Dari kampung Norang ini hanya ada seorang guru dan 12 siswa yang bersekolah di SMK Negeri 2 Welak, tapi siswanya tinggal di rumah keluarga dan kos-kosannya masing-masing.

Untuk mencapai sekolah, Rian yang biasa di sapa itu mesti menempuh jarak kurang lebih 10 kilo meter menggunakan motor tuanya.

Motor kenangan waktu kuliahnya dulu itu menyusuri jalan tanah dan batu yang berdebu saat kering, dan berlumpur dan licin saat musim hujan.

Namun, dia tidak pernah lelah ke sekolah, karena dia percaya, pendidikan adalah dasar kemajuan bangsa.

Sebagai guru honorer, Rian hanya menerima upah sebesar Rp 200.000/bulan, dan itu tidak cukup memenuhi kebutuhannya sehari–hari.

Untuk bisa bertahan hidup, maka sepulang mengajar setiap hari, ia harus membantu ibunya bekerja di kebun.

Ia mengatakan kalau sebagian orang, impiannya mungkin hanya akan berhenti sebagai bunga tidur. Tetapi bagi dirinya, ia menjadikan impian sebagai bangunan dasar untuk mewujudkan angan-angan.

“Impian bisa selalu menjadi api semangat untuk meraih apa pun,” kata mantan pegawai salah satu hotel ternama di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan itu.

“Menyalakan api semangat anak Indonesia dan Guru itu unik, tidak akan habis kita bahas tangisannya. Solusi demi solusi dibungkus dengan janji, namun masih terdengar jelas doa-doa lirih dari pelosok negeri,” katanya dengan nada puisi.

Kepada pemerintah, ia berharap, untuk bisa memperhatikan akses jalan yang sangat sulit ke kampungnya saat ini.

Lebih khusus juga, ia berharap, agar pemerintah serius memikirkan nasib guru honorer yang mengajar di daerah terpencil seperti dirinya.

“Tolong diperhatikan, khususnya jalan raya, dan kesejahteraan guru honorer dengan upah yang setara,” pintanya.(fon/*)

OLEH

Selalu update berita terbaru kami di Google News dan What's App.

KUPANG Ramalan Cuaca

Berita Lainnya