IBADAT Jumat Agung di Stasi St. Kristoforus Matani ditandai dengan cium Salib.
Cium Salib dalam perayaan Jumat Agung adalah sebuah tradisi dalam Gereja Katolik untuk menghormati pengorbanan Yesus Kristus di Kayu Salib.
Ibadat yang dimulai tepat pukul 15.00 Wita dihadiri ribuan umat Katolik.
Momen yang penuh sakral ini merupakan bagian dari rangkaian pekan suci yang memperingati wafat-Nya Yesus Kristus di Kayu Salib.
Romo Andreas Sika, Pr dalam homilinya mengatakan, dosa bukan hanya tentang pelanggaran besar, tetapi juga keegoisan kecil, sikap masa bodoh terhadap sesama, dan tindakan menjauhkan diri dari kasih Allah.
Lebih lanjut, Romo Anderas Sika mengatakan, Yesus Kristus rela wafat di Kayu Salib untuk menanggung dosa manusia.
“Biar Yesus tidak bersalah apapun, tetapi Dia rela dihukum seperti orang yang bersalah karena dosa-dosa kita,” ujar Romo Andreas.
Romo Andreas juga mengajak umat Katolik dimanapun berada, agar tetap mengikuti ajaran Yesus Kristus
“Hari ini, Jumat (18/4/2025) mengundang kita sekalian untuk tidak boleh melepaskan perhatian, iman, kepercayaan kita, dan hormat kita kepada Tuhan Yesus,” kata Romo Andreas mengingatkan umat yang hadir saat itu.
Dalam suasana hening dan penuh penghayatan, umat secara bergiliran maju sambil berlutut untuk mencium kaki Yesus pada Salib yang diletakkan di tiap titik yang telah sediakan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas pengorbanan Sang Juru Selamat.
Proses penciuman Salib berlangsung selama 30 menit.
Ribuan umat yang hadir didominasi mengenakan pakaian berwarna merah dan hitam yang mencerminkan duka dan pengorbanan.
Ibadat Jumat Agung di Stasi St. Kristoforus Matani diiringi oleh koor dari Wilayah V.
Ibadat Jumat Agung ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi momen refleksi yang mendalam bagi umat Katolik untuk kembali meneguhkan iman dan menyadari makna penderitaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. (ris)



