Data Bocor Lagi, Selemah Itukah Keamanan Siber Indonesia?

Oleh: Saverianus Seda, Mahasiswa Semester VIII Fakultas Hukum Undana Kupang

MENGAWALI tulisan ini, penulis teringat lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki yang dalam sepenggal liriknya memuat kalimat “Indonesia tanah air beta”.

Kata “beta” dalam pandangan teknologi adalah dimana fase tahap uji coba terhadap suatu teknologi baru yang akan dipublikasi, dengan harapan dapat ditemukan kekurangan terhadap teknologi tersebut sehingga dapat diperbaiki.

Jika kita hubungkan, makna “beta” dalam lirik lagu dan teknologi sangat menggambarkan Indonesia sekarang.

Masih terbenak dalam ingatan kasus Bjorka, seorang hacker yang membobol data milik BUMN yang di dalamnya terdapat data masyarakat Indonesia.

Serta yang terbaru kasus Ransomware Lockbit 3.0 yang menyerang server milik Pusat Data Nasional (PDN) sehingga menyebabkan banyak data milik instansi pemerintahan dikendalikan oleh hacker.

Kasus bocornya data milik pemerintah merupakan bukti bahwa Indonesia masih “beta” atau dalam tahap uji coba dalam mengelola data, baik milik masyarakat maupun data milik instansi pemerintah itu sendiri.

Menurut penulis, Pemerintah Indonesia belum mampu untuk mengelolanya.

Dengan berbagai kasus pencurian data ini, pemerintah lewat Kementerian Informasi dan Komunikasi Republik Indonesia (Keminfo RI) serta instansi yang berhubungan harus lebih serius dalam melindungi data milik warganya.

Sebab di zaman yang sudah canggih ini, kebocoran data merupakan salah satu hal yang serius. Karena dengan bocornya data tersebut banyak informasi yang dapat diperoleh. Apalagi data itu milik pemerintah, yang tentunya memuat informasi tentang masyarakat, instansi pemerintah serta mungkin data rahasia negara.

Dengan berbagai macam kasus yang sudah terjadi ini, pemerintah harusnya memperkuat keamanan siber kita.

Selain memperkuat dari sisi teknologi, sisi SDM juga harus di-upgrade lagi, sehingga dapat mencegah terjadinya kebocoran data di kemudian hari.

Dengan SDM yang berkualitas, maka kemungkinan terjadinya human eror dapat dikecilkan, serta jika terjadi suatu permasalahan dapat ditangani lebih cepat. Karena mereka sudah lebih pengalaman dalam menangani kasus tersebut. (*)

Bagikan