KUPANG, NTT PEMBARUAN.id- Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunu,ST,MT memaparkan sejumlah potensi wisata alam dan budaya yang unik dan menarik di daerahnya dihadapan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wayan Darmawa, Sekretaris Dinas Parekraf NTT, Beni Wahon dan pegawai Disparekraf NTT di Ruang Rapat Disparekraf NTT, Rabu (20/3/2019).
Dari sisi budaya, produk wisata yang ditampilkannya, antara lain, budaya Hanok, Puang Kemer, Ahar, Tengkorak Lewo Golok, Lamanunang, Tatong Uyelewun, Lamalera Whale Catching, dan Epo Budaya Uyelewun Raya.
Sedangkan potensi wisata alam antara lain, Kawah Putih Lewotolok, Gunung Batutara, Alam Blue Mountains Tours, Bukit Five Brothers, Pantai Nuhanera, Pantai Mingar, Pantai Tukik, Pantai Wade, Dolpin Watehing, Kawasan Wade, Pantai Nio Wade, Kawasan Pantai Bobu, Tepi Bobu, Wisata Pool Apung Pulau Siput Awulolong, Pojok Cinta Balauring, Tanjung Tuak Kolipadan, Tiang Batu Atadei,Liang Puen, Batu Relief Pra Sejarah, Air Terjun Wirilangu Banitobo, dan Air Terjun Lodo Falo.
Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunu,ST,MT menempatkan potensi pariwisata di daerahnya sebagai sektor utama pembangunan daerah yang didesain dalam 2 pilar pembangunan kepariwisataan yang integrated, yaitu pembangunan pariwisata dan pengembangan pariwisata dengan fortofolio adalah produk pariwisata alam, budaya,dan buatan .
Untuk mencapai itu, kata Bupati Eliaser, perlu dilakukan upaya optimal dalam pengembangan dan penataan kawasan destinasi wisata yang visitable dan marketable dengan mengeksplore potensi dimaksud untuk ditampilkan sebagai image brandiung yang lain, selain komodo untuk kepariwisataan NTT, Nasional dan dunia.
Dalam rangka menciptakan Lembata sebagai The New Destination Tourism, lanjut dia, diperlukan penataan dan pengembangan sektor pariwisata yang tepat dalam desain arah kebijakan, arah pembangunan dan strategi serta penguatan perencanaan pembangunan pariwisata Kabupaten Lembata yang sinergi dengan kebijakan kepariwisataan nasional.
Untuk mendukung semuanya itu, maka pembangunan dan pengembangan pariwisata di Kabupaten Lembata adalah berbasis alam, berbasis budaya dan berbasis kegiatan dengan desa sebagai pusat produksi melalui strategi menjadikan desa sebagai vocal point travel village explore rural Lembata (desa wisata berbasis alam, berbasis seni budaya, berbasis wisata bahari, dan berbasis hasil pertanian ).
Selain itu, dilakukan peningkatan pasar melalui digitalisasi, inovasi berkelanjutan ( membuat ikon dan destinasi baru) serta penggunaan aplikasi smartphone, pengelolaan event tourism melalui Lembata festival “f3g” berbasis wisata alam, wisata budaya, dan sport tourism.
Budaya Penangkapan Ikan Paus
Menurut dia, hal yang unik dalam penangkapan ikan paus itu, seperti ritual adat yang dilakukan masyarakat setempat belum terekspose secara maksimal. Padahal, itu sebenarnya menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara dan nusantara.
Ia berencana, Lamalera, tempat penangkapan ikan paus akan dijadikan sebagai tempat wisata penelitian, sehingga mereka bisa melakukan penelitian lebih lama tinggal di sana. Sebab, untuk melakukan penelitian, lanjutnya lagi, tidak sekedar menonton atau melihat ritual adat dan prosesi penangkapannya saja, tetapi juga mencaritahu lebih dalam seputar historynya.
“Selain itu, kita juga memiliki gunung yang bisa bermain bolla di dalamnya, memiliki gunung yang bisa minum coca cola. Jadi, kita jual alamnya yang punya keunikan dan mempunyai daya tarik tersendiri seperti itu,” tandasnya.
Ia menyebutkan, ada 4 kawasan destinasi wisata yang menjadi prioritasnya antara lain, Bukit Cinta, Pojo Teta, dan Pantai Mutiara. “Untuk Bukit Cinta, kita akan membangun Usaha Kecil Menengah (UKM) bagi penjual kuliner di dalamnya yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Kita sementara membangun pusat-pusat kegiatan yang memiliki daya tarik wisata. Daya tarik wisata itu nantinya akan menjadi destinasi wisata. Sehingga ketika orang mau ke Lembata ada daya tariknya. Seperti orang mau ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), daya tariknya adalah Komodo,” kata Bupati Eliaser.
Untuk mengangkat semua potensi wisata itu, menurut dia, tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD II), tetapi perlu adanya dukungan anggaran dari pemerintah provinsi (Pemprov) dan pemerintah pusat (Pempus), terutama pembangunan infrastruktur akses jalan masuk , dan fasilitas lainnya.
Ia contohkan, jalan kabupaten saja sepanjang 600 kilo meter lebih, dan kalau anggaran jalannya hanya Rp 30 miliar di Dinas Pekerjaan Umum (PU), maka memerlukan waktu yang lama untuk bisa selesai.
Bagi dia, membangun dunia pariwisata itu bagian dari seni. Orang-orang yang mempunyai bakat seni itulah yang memberi daya tarik bagi semua orang. Dan’ kalau daya tariknya sudah ada, mau jalan rusak apapun orang tetap ke sana.
Pariwisata itu, ia identikan seperti koor bisnis, sehingga tidak semuanya harus dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga sektor swasta.
Pada tempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wayan Darmawa mengatakan, siap mendukung Bupati Lembata dalam membangun fasilitas di sejumlah lokasi wisata di daerah itu.
Sebagai bentuk dukungnya, Tahun 2019 ini, Pemprov NTT melalui Disparekraf NTT mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,3 M lebih untuk pembangunan destinasi wisata di Kabupaten Lembata, seperti pemasaran, promosi, pengembangan kelembagaan, dan pengembangan industri.
Apa yang dilakukan Bupati Lembata, menurut Wayan, sejalan dengan keinginan Gubernur NTT di bidang pariwisata. “Kita juga terus melakukan koordinasi terkait pembangunan infrastruktur jalan masuk ke lokasi destinasi wisata, dimana salah satu tekad Gubernur NTT tahun 2021 semua jalan provinsi sudah tuntas. Begitupun, pembangunan fasilitas, seperti air bersih, listrik, dan jaringan telekomunikasi harus memadai di semua destinasi wisata,” kata Mantan Kepala Bappeda NTT ini.
Sementara Wakil Ketua DPRD Lembata, Yohanes De Rosari yang hadir pada pemaparan itu mengatakan, lembaga DPRD setempat selalu mendukung semua kebijakan Bupati Lembata termasuk di bidang pariwisata.
“Kami minta Disparekraf NTT untuk membangun sinergitas, sehingga adanya sharing anggaran dari provinsi untuk pembangunan fasilitas di sejumlah kawasan daerah destinasi wisata di Lembata dan membantu mempromosi, agar potensi wisata di daerahnya menjadi populer di dunia,” harapnya. (ade)



