Categories Daerah Humaniora

Bocah Febianto Mengaku Masih Merasakan Sakitnya di Bekas Gigitan Komodo

LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.id– Bocah Febianto (5) yang digigit Komodo pada Sabtu, 16 Januari 2021 lalu di Desa Pulau Komodo sampai saat ini masih merasakan sakitnya, terutama di bekas gigitannya.

Bocah Febianto tersebut berasal dari Desa Pulau Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, Provinsi NTT.

Pada bulan Januari yang lalu baik lewat Medsos, Media Online maupun lewat beberapa Televisi Nasional memberitakan bahwa Febianto telah digigit oleh Komodo saat bermain di teras rumahnya pada Sabtu, 16 Januari 2021 yang lalu.

Akibat dari kejadian tersebut pergelangan tangan korban sebelah kiri putus karena digigit Komodo.

Tidak hanya itu, wajah dan bagian kepala dan badan korban juga luka parah.

Pada saat itu Febianto langsung dilarikan ke Pustu terdekat, tapi dengan peralatan dan fasilitas yang terbatas akhirnya Febianto langsung dibawa ke RS Siloam Labuan Bajo dan akhirnya bisa tertolong dengan selamat.

Febianto (5), dikabarkan setelah selesai operasi dari RS Siloam Labuan Bajo dan kembali ke kampungnya di Desa Komodo, memang korban sehat namun korban sering sakit akibat menahan bekas luka yang dideritanya terutama pada bagian tangan kepala dan di bagian tubuhnya hingga saat ini.

Karem, ayah kandung dan Sahna, ibu kandung Febianto saat ditemui wartawan mengatakan, kondisi anaknya Febianto pada saat pulang dari RS Siloam Labuan Bajo memang sehat, namun setelah itu sering mengeluh dan sakit hingga saat ini.

“Anak kami ini (Febianto) setelah pulang dari RS Siloam Labuan Bajo memang sehat dan kami pun setelah itu sering melakukan kontrol lagi ke RS Siloam Labuan Bajo. Tetapi setelah itu dia sering sakit sampai sekarang. Sebentar sehat dan sebentar lagi sakit,” cerita Karem dan Sahna kepada wartawan, Rabu (6/10/2021).

Kedua orang tua korban, merencanakan untuk membawa kembali anaknya ke RS Siloam Labuan Bajo, namun karna keadaan ekonomi tidak mendukung akhirnya setiap korban sakit hanya dibawa rujuk ke Pustu yang ada di dalam desa itu sendiri.

“Kalau setiap anak kami ini sakit kami sangat sedih dan hanya menangis dan kami hanya mampu bisa bawa batas ke Pustu terdekat saja dan itu pun karna ada BPJS. Kami mau bawa ke Rumah Sakit mau pakai uang darimana untuk biaya ke sana. Apalagi masa Covid-19 ini. Sementara suami saya hanya seorang nelayan kadang penghasilan hanya sampa Rp 50.000 per hari belum potong biaya dan makanan. Kadang juga pulang kosong apalagi ini lagi musim angin mana bisa melaut,” kisah Sahna sambil berurai air mata.

Karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung untuk biaya pengobatan selanjutnya dari orang tuanya saat ini mereka berharap, semoga anaknya dan keluarganya lebih diperhatikan lagi oleh pihak pemerintah terutama instansi terkait yakni TNK, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat.

“Kami sebagai orang tua sangat berharap terutama kepada pihak TNK dan Pemkab Mabar, Pemprov dan Pempus untuk lebih memperhatikan kondisi anak kami ini di sini, bagaimana nasibnya ke depan dengan posisi saat ini mulai dari biaya sekolahnya dan masa depan anak kami. Tolong kami diperhatikan,” pinta kedua orang tuanya.

Sementara itu, Kepala Desa Komodo, H. Aksan didampingi Sekdes, Ismail, saat di konfirmasi awak media, Rabu (6/10/2021) mengatakan, korban (Febianto) saat pulang dari RS memang benar korban sehat. Tetapi setelah itu korban juga sering sakit.”

Iya memang korban sudah sembuh tapi ya setelah itu korban sering sakit. Selanjutnya, kami pihak TNK untuk memperhatikan kondisi kesehatan dan masa depan anak pendidikan anak itu,” kata Ismail.

Sepengetahuan mereka, pihak TNK sendiri juga pada saat kejadian telah membantu korban, namun sejauh ini dirinya tidak tau bagaimana selanjutnya.

“Ya memang pas kejadian itu hari, pihak TNK sendiri juga membantu, tapi tidak tahu kelanjutannya setelah korban pulang dari RS ke kediamanya sampai sekarang belum kami di konfirmasi. Kami juga pernah tanyakan kepada keluarga korban bagaimana apa ada kabar selanjutnya dari pihak TNK atau bagaimana, dan keluarga bilang nggak ada konfirmasi selanjutnya dari pihak TNK hingga saat ini,” tutur Ismail.

Lebih lanjut Ismail, menjelaskan memang pada saat itu pihak yang membantu korban bukan hanya dari pihak TNK sendiri namun ada juga dari donatur luar.

“Ya selain dari pihak TNK sendiri ada juga pihak Pemda Mabar dan donasi dari luar yang membantu saat itu kebanyakan dari teman teman peduli korban bahkan dari Jakarta juga ada. Semoga saja pihak terkait bisa membantu lagi anak ini terutama mengenai pendidikanya ke depan,” ucapnya. (fon)

OLEH

Selalu update berita terbaru kami di Google News dan What's App.

KUPANG Ramalan Cuaca

Berita Lainnya