Categories Ekbis

Menko AHY Lakukan Panen Tebu di Sumba Timur

WAINGAPU, NTT PEMBARUAN.id -Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan panen tebu di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (19/8/2025).

Hadir saat itu, Menteri Transmigrasi RI, M.Iftitah Sulaiman Suryanagara, Direktur Jenderal Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi, Sigit Mustofa Nurudin, Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, Velix Vernando Wanggai, Staf Khusus Menteri Bidang Tata Kelola Organisasi dan Kelembagaan, Iti Octavia Jayabaya, Staf Khusus Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Arief Rahman dan Agust Jovan Latuconsina, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, Bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur.

Saat itu, Rombongan Menko AHY melakukan panen tebu Sumba Manis yang dikelola PT.Muria Sumba Manis (MSM) di Melolo, sebuah perusahaan gula yang telah sudah hadir di Sumba Timur sejak 2014.

PT. MSM ini mengelola lahan lebih kurang 21.000 hektar dengan kapasitas produksi tebu mencapai 2,1 juta ton per tahun.

Produksi utama yang dihasilkannya berupa 210.000 ton gula kristal putih per tahun, 100.000 ton molase, 30.000 ton pupuk organik, 22 MW listrik biomassa dimana sekitar 12 MW berpotensi disalurkan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Sumba Timur yang saat ini sekitar 6 MW.

Menko AHY mengaku, baru pertama kali mengunjungi Sumba Timur.

Ia merasa bahagia melihat langsung potensi yang ada di Sumba Timur.

Tantangan geografis yang berat, menurut beliau, justru menjadi peluang besar bila dihadapi dengan inovasi, teknologi, dan keberanian.

Lebih lanjut, ia mengatakan, Pempus menaruh perhatian serius terhadap pengembangan kawasan Melolo yang ditandai dengan MoU antara Kementerian Transmigrasi dan Kementerian Desa untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi yang terintegrasi dengan sektor industri.

“Dengan kemajuan teknologi dan keberanian, kita mampu mengubah daerah ini menjadi daerah yang menghasilkan,” tukasnya.

Karena itu, pentingnya pola integrasi transmigrasi dengan industri.

Kawasan transmigrasi menyediakan lahan dan tenaga kerja, sedangkan industrinya berperan menghadirkan modal, teknologi dan pasar (offtaker) untuk menghasilkan produksi.

Apabila pola ini berhasil dan direplikasi ke kawasan transmigrasi lain, dampaknya adalah pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja.

Sektor gula dan energi baru terbarukan (EBT) juga mendapat perhatian khusus. Gula dinilai strategis karena belum memiliki substitusi, sementara bioethanol dari tebu mendukung program energi ramah lingkungan.

Pada tempat yang sama, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma mengapresiasi kunjungan Menko AHY dan Menteri Iftitah bersama rombongan di Sumba Timur.

Ia menilai, kunjungan tersebut wujud nyata perhatian Pemerintah Pusat terhadap NTT yang mempunyai beragam potensi untuk dapat dikembangkan menjadi sumber daya yang memiliki manfaat bagi masyarakat sekitar.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kunjungan Bapak Menko dan Bapak Menteri Transmigrasi ke Sumba Timur. Kehadiran ini adalah bentuk perhatian nyata Pemerintah Pusat bagi masyarakat NTT,” ujar Wakil Gubernur NTT menyambut para rombongan.

Selanjutnya, beliau memberi gambaran umum tentang kondisi NTT.

Dalam pemaparannya digambarkan bahwa kendala utama di NTT, khususnya Sumba Timur, adalah keterbatasan air akibat curah hujan yang rendah. Meski demikian, kehadiran MSM sejak 2014 telah menjadi pelopor industri di kawasan ini dan diharapkan masyarakat di kawasan transmigrasi lain juga dapat merasakan manfaat yang sama seperti di Melolo.

Wakil Gubernur Asadoma merekomendasikan beberapa hal, yakni peningkatan infrastruktur jalan dengan pengalihan beberapa ruas jalan provinsi menjadi jalan nasional dan pelebaran jalan nasional, khususnya rute pelabuhan Waibakul-Baing. Dalam mendukung ketahanan pangan, khususnya pada sentra produksi ternak, pakan ternak dan hortikultura, Wakil Gubernur NTT mengusulkan pembangunan 1.613 embung kecil dan 35 embung irigasi.

Sementara itu, Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, dalam arahannya menegaskan bahwa NTT menghadapi tantangan berat berupa iklim kering dan topografi berbatu.

Namun, ia mengapresiasi PT. MSM yang berani melakukan terobosan dengan mengembangkan industri di wilayah tersebut.

Ia menekankan bahwa pengelolaan sumber daya air menjadi prioritas, dan telah meminta Dirjen SDA menyusun strategi agar NTT tidak kekurangan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri.

Dijelaskannya, MSM saat ini menyerap 3.500 tenaga kerja dan jumlahnya meningkat menjadi 6.000 orang saat musim panen. Menteri Iftitah menekankan bahwa lapangan kerja tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada status sosial masyarakat, karena dengan pekerjaan tetap, masyarakat memiliki martabat dan kesejahteraan yang lebih baik.

Paparan dari PT MSM menyebutkan bahwa kapasitas produksi saat ini mencapai 600 ton gula per hari. Mereka optimis menjadi produsen gula terbesar di Indonesia.

Kini lahan yang tengah digarap seluas 4.500 Ha dan akan diperluas sesegera mungkin. Tujuan perluasan ini untuk mendukung pemerintah mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan perekonomian. Namun, perusahaan masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain kebutuhan dukungan pemerintah untuk pemenuhan bahan baku raw sugar, keterbatasan infrastruktur jalan dan pelabuhan yang membuat distribusi harus melalui Surabaya serta keterbatasan akses komunikasi dan telekomunikasi. MSM juga menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan, diantaranya melalui pengolahan limbah menjadi listrik biomassa dan pupuk organik, serta rencana pengembangan bioetanol dan program breeding.

Sementara Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, menegaskan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur berkomitmen untuk menjadikan Sumba Timur sebagai pusat pertumbuhan baru di Nusa Tenggara Timur.

Sumba Timur menurutnya, memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan pariwisata, dengan Kawasan Transmigrasi Melolo dan Lewa sebagai pusat pengembangan utama.

“Berbagai investasi strategis di bidang perkebunan, industri pengolahan, dan perikanan tangkap maupun budidaya semakin memperkuat posisi Sumba Timur sebagai kawasan potensial.

Meski masih menghadapi tantangan berupa kemiskinan, stunting, infrastruktur yang terbatas, serta risiko bencana, pemerintah daerah mendorong sinergi dengan swasta dan masyarakat untuk mengoptimalkan potensi yang ada,” ucapnya.

“Dengan langkah pembangunan terarah dan pemberdayaan masyarakat, Sumba Timur diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat serta memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian visi Indonesia Emas 2045,”tambah Umbu Lili.

Setelah menggelar rapat terbatas bersama jajaran terkait, rombongan menteri melanjutkan agenda dengan meninjau langsung pabrik gula PT Muria Sumba Manis (MSM) di Melolo. Para menteri bersama pimpinan daerah melihat proses pengolahan tebu menjadi gula, sekaligus mendapatkan penjelasan teknis mengenai kapasitas produksi dan rencana pengembangan industri gula terintegrasi di kawasan tersebut.

Selanjutnya, rombongan juga meninjau salah satu embung yang dibangun untuk mengairi perkebunan tebu MSM.

Embung ini menampung air dari muara dan hujan, yang kemudian dialirkan melalui sistem irigasi bawah tanah.

Kunjungan ke Rumah Tenun

Ahy di sumba timur tinjau

Mengakhiri rangkaian kunjungan kerja tersebut, rombongan Menteri melanjutkan kunjungan ke Rumah Tenun Hamuhori–Hamuhara yang berdiri sejak 2016 beranggotakan 180 penenun.

Rumah tenun ini telah menghasilkan beragam tenun ikat khas Sumba Timur. Pada kesempatan tersebut, para menteri memberikan dukungan nyata dengan membeli hasil tenun masyarakat dan menerima buku Jalur Tenun Sumba yang diserahkan oleh pengurus rumah tenun.

Kunjungan kerja ini menegaskan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi Melolo tidak hanya sebatas proyek pembangunan, tetapi bagian dari strategi nasional untuk pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, mendukung swasembada gula, serta pengembangan energi baru terbarukan di Nusa Tenggara Timur.

Rombongan menteri dan pejabat terkait kemudian take offmeninggalkan Sumba Timur menuju kembali ke Jakarta sekitar pukul 17.30 Wita. (red/*)

OLEH

Selalu update berita terbaru kami di Google News dan What's App.

KUPANG Ramalan Cuaca

Berita Lainnya