KUPANG, NTT PEMBARUAN.id – Hari ini Selasa, (1/9/2026) Universitas Nusa Cendana (Undana) memperingati Dies Natalis ke-64 sekaligus mengukuhkan 1872 wisudawan di Grha Undana, Kupang.
Hadir dalam kesempatan ini Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek RI, Mohammad Fauzan Adziman, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Rektor UNDANA, Jefry Bale beserta jajaran, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, Unsur Forkopimda Provinsi NTT.
Gubernur NTT dalam sambutannya mengapresiasi atas perjalanan 64 tahun UNDANA yang dinilainya tidak dapat dipisahkan dari perjalanan pembangunan NTT.
Selama lebih dari enam dekade, UNDANA telah melahirkan berbagai sumber daya manusia yang berkontribusi dalam pembangunan daerah dan bangsa, mulai dari guru, tenaga kesehatan, birokrat, peneliti, profesional, pengusaha hingga pemimpin masyarakat.
“Peran perguruan tinggi tidak boleh berhenti di ruang kelas. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, kampus dituntut hadir dengan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan aksi nyata untuk menjawab persoalan daerah.
“UNDANA bukan hanya sebuah institusi pendidikan tinggi di Kota Kupang, tetapi merupakan salah satu rumah intelektual NTT yang mempunyai tanggung jawab moral untuk membaca persoalan daerah, mengembangkan pengetahuan, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat,” ujar Gubernur Melki.
Menurutnya, posisi strategis tersebut harus terus diperkuat seiring cita-cita UNDANA menjadi “World Class, Locally Relevant University.”
Gubernur Melki menegaskan, menjadi universitas berkelas dunia merupakan cita-cita penting yang harus didukung dengan penguatan mutu akademik, penelitian, inovasi, jejaring internasional, dan kualitas lulusan. Namun, orientasi global tersebut harus tetap berpijak pada kebutuhan dan persoalan masyarakat NTT.
“Universitas boleh menjulang tinggi, tetapi harus tetap memiliki akar yang kuat. Dan akar UNDANA adalah Flobamorata, masyarakat NTT dengan seluruh persoalan, kekayaan, tantangan, dan harapannya,” tegasnya.
Gubernur Melki secara khusus mengapresiasi langkah cepat UNDANA dalam merespons gempa bumi Flores pada 15 Agustus 2026.
Ketika bencana terjadi, UNDANA tidak memilih untuk berdiri sebagai penonton. Civitas Akademika bergerak dengan menerjunkan tim kemanusiaan ke wilayah terdampak, membangun posko darurat, menghadirkan pelayanan kesehatan, menggerakkan relawan, serta menyalurkan bantuan logistik yang turut didukung Dharma Wanita Persatuan UNDANA.
“Ketika bencana terjadi dan masyarakat membutuhkan pertolongan, UNDANA tidak memilih untuk berdiri sebagai penonton. Kampus bergerak cepat,” ungkap Gubernur Melki
Ia menilai, respons tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam situasi krisis. Ilmu pengetahuan tidak harus menunggu keadaan kembali normal untuk memberikan manfaat, tetapi justru harus hadir ketika masyarakat berada dalam kondisi paling membutuhkan.
“Justru dalam situasi krisis, keberadaan kampus diuji: apakah pengetahuan yang dimiliki dapat hadir untuk meringankan penderitaan masyarakat,” katanya.
Gubernur juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa UNDANA yang turun langsung ke lapangan membantu masyarakat terdampak bencana.
Menurutnya, pengalaman tersebut merupakan proses pembelajaran yang sangat berharga karena mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat menghadapi kehilangan, bertahan dalam keterbatasan, serta membangun solidaritas di tengah situasi sulit.
“Di lapangan, ilmu bertemu dengan kenyataan, dan pendidikan bertemu dengan kemanusiaan,” ujar Gubernur Melki.
Gubernur Melki berharap pengalaman UNDANA dalam menghadapi gempa Flores menjadi momentum untuk semakin memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan NTT.
Ia mendorong agar penelitian dan inovasi yang dikembangkan UNDANA semakin diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat, seperti mitigasi bencana, pembangunan gedung tahan gempa, kesehatan dan pemulihan pascabencana, ketahanan pangan, air, lingkungan, perubahan iklim, ekonomi lokal, pendidikan, hingga pengembangan wilayah kepulauan dan perbatasan.
“Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Pemerintah membutuhkan perguruan tinggi sebagai mitra pengetahuan, sementara perguruan tinggi membutuhkan persoalan nyata masyarakat sebagai ruang untuk menguji dan mengembangkan ilmunya,” jelasnya.

Karena itu, Gubernur Melki mengajak seluruh jajaran pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun NTT yang berbasis pengetahuan, inovasi, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Di hadapan para wisudawan dan wisudawati, Gubernur Melki menyampaikan selamat atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan sekaligus berpesan agar ilmu yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.
“Gunakan gelar Saudara bukan hanya untuk mencari tempat di dunia, tetapi untuk menemukan cara memberi tempat bagi orang lain agar dapat tumbuh dan maju bersama,” pesannya.
Gubernur mendorong para lulusan untuk berani bermimpi besar dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Namun, di mana pun mereka berkarya, para lulusan diminta untuk tidak melupakan akar dan tanggung jawab sosialnya.
“Bawalah ilmu Saudara sejauh mungkin. Jangan takut bermimpi besar dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Tetapi jangan pernah kehilangan akar,” katanya.
Ia menegaskan, ukuran keberhasilan pendidikan pada akhirnya bukan hanya gelar yang diperoleh, tetapi sejauh mana ilmu dan keahlian tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain.
“Jika kelak Saudara menjadi dokter, guru, insinyur, birokrat, pengusaha, akademisi, peneliti, atau profesional, jadilah manusia yang mampu menggunakan keahliannya untuk membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik,” pesan Gubernur Melki. (ris)




