KUPANG, NTT PEMBARUAN.id – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2025/2026 di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Kota Kupang sampai dengan berakhirnya gelombang kedua, jumlah siswanya belum mencapai kuota.
“Kuota penerimaan siswa baru yang kami target pada Tahun Pelajaran 2025/2026 sebanyak 485 siswa baru untuk dibagi dalam 15 rombongan belajar (Rombel), namun sampai dengan berakhirnya penerimaan gelombang kedua target itu belum tercapai,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMK Negeri 5 Kota Kupang, Hebner Dakabesy kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (8/7/2025).
Ia menyebutkan, SPMB online gelombang I mulai 26-28 Juni 2025 dengan jumlah siswa yang mendaftar 356 orang, dan masih kurang 129 orang.
Kemudian, dibuka lagi SPMB online gelombang II mulai 4 – 5 Juli 2025 dengan jumlah siswa yang mendaftar hanya 45 orang, lagi-lagi masih kurang 84 siswa.
Menurut rencana, kuota yang masih sisa akan ditambah dari siswa yang tidak naik kelas di sekolah itu.
Kata Hebner, baik gelombang I maupun gelombang II, setiap hari sistem penerimaannya melalui 2 sesi, dimana sesi I dibuka dari jam 08.00 – 11.00 Wita dilanjutkan sesi II dibuka dari pukul 13.00 – 16.00 Wita.
Lebih lanjut Hebner mengatakan, kuota penerimaannya setiap hari selama SPMB berlangsung dibatasi oleh operator admin masing-masing sekolah sesuai petunjuk dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Tujuan dibuat sesi, lanjut beliau, supaya ada rentang waktu bagi operator admin masing-masing sekolah untuk melakukan verifikasi terhadap siswa yang sudah mendaftar.
“Tahun ini, memberi keleluasan kepada masyarakat, khususnya calon siswa baru untuk memilih sekolah sesuai seleranya. Contohnya, paginya dia mendaftar di SMKN 5 Kupang, tiba-tiba dia mau pilih sekolah lain, bisa datang ke operator admin sekolah untuk membatalkannya,” jelas Hebner.
Terkait animo masyarakat, khususnya calon siswa baru yang mempengaruh tidak tercapainya kuota penerimaan siswa baru di sekolahnya tahun ini, jawab Hebner, hampir semua sekolah mengalami hal itu.
“Mungkin karena sosialisasinya kurang karena model penerimaan siswa baru tahun ini dilakukan 2 sesi setiap hari. Mungkin masyarakat berpikir dengan ditutupnya sesi I oleh operator admin sekolah dianggap sudah tutup. Padahal, masih ada sesi kedua. Hal ini akan menjadi bahan evaluasi kita ke depan,” pungkasnya. (red)



