KUPANG, NTT PEMBARUAN.id – Pembangunan rehablitasi tiga bendungan yang mengalami kerusakan akibat bencana badai siklon tropis seroja tahun ini akan dilanjutkan Tahun 2022 mendatang.
“Sudah beberapa kali bangunan pengelak kita terganggu karena banjir, seperti Bendungan Mainang di Kabupaten Alor, Bendungan Mena di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Bendungan Haekesa di Kabupaten Belu,” sebut Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara 2 Provinsi Nusa Tenggara Timur,Ir. Agus Sosiawan,MT kepada wartawan di Kupang, Kamis (23/12/2021).
Ketiga bendungan itu, kata Agus, rata-rata bendungan besar dengan debit airnya cukup besar, sehingga kalau tahun ini pekerjaannya belum selesai maka dananya akan diluncurkan kembali Tahun 2022 mendatang karena sistemnya multi years.
Agus mengatakan, Peraturan Menteri Keuangan (PMK-nya) sudah keluar terkait ketentuan-ketentuan pemberlakuan di masa pandemi Covid-19. Di situ mengatur, bagaimana rekanan diberikan waktu untuk melanjutkan pekerjaan Tahun 2022 mendatang, tapi dengan jaminan. Tentunya yang berakhir dengan tanggal 31 Desember 2021 yang terlambat, kata Agus, akan dikena denda sesuai ketentuan yang berlaku.
Lebih lanjut ia mengatakan, penanganan pasca bencana ini kontraknya belakangannya, sehingga selesainya juga tidak bersamaan.
“Pada dasarnya, tidak ada satu orang pun yang bisa memastikan dengan pasti berapa biaya dan kerusakannya. Namanya barang yang sudah rusak, kemudian kita perbaiki. Yang diluncurkan tahun depan seperti Bendungan Mainang, Kabupaten Alor, Bendungan Mena, Kabupaten TTU dan Bendungan Haekesa, Kabupaten Belu. Semuanya multi years,” tandas Agus yang didampingi Kasi OP BWS NT II, Jhon Harapan saat itu.
Sebelumnya diberitakan, Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mengusulkan anggaran sebesar Rp 626 miliar ke Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) untuk membangun kembali sejumlah infrastruktur yang rusak akibat bencana alam badai siklon tropis seroja di 47 titik di NTT Tahun 2021.
Infrastruktur yang mengalami kerusakan itu antara lain, jaringan irigasi, bendungan, embung, pengamanan pantai dan sungai yang tersebar di tiga satuan kerja (Satker) di Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II.
Pihaknya juga mendapat penugasan dari Kementerian PUPR untuk membantu Bidang Perumahan dan Cipta Karya di 5 titik di NTT untuk mendukung hunian tetap, untuk 1.000 unit rumah masing-masing di Lembata, 700 unit rumah, dan 300 unit rumah di Adonara. (red)



