KUPANG, NTT PEMBARUAN.id- Progres fisik paket Multi Years Contract (MYC) bawaan dari Tahun 2024 pekerjaan jalan nasional menuju Wae Kelambu di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga 1 September 2025 sudah mencapai 91,12 persen dengan realisasi keuangan 70,03 persen.
Hal itu disampaikan Kasatker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah III Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT, Aan Marandius, S.T, M.T kepada wartawan di Kantor BPJN NTT, Senin (1/9/2025) petang.
Kata beliau, panjang penanganan untuk ruas jalan menuju Wae Kelambu lebih dominan pada penurunan grade jalan atau tindakan mengurangi kemiringan yang sebelumnya grade jalan sangat curam.
Awalnya, di ruas jalan itu sering terjadi kecelakaan kendaraan yang berat dari pelabuhan ketika menanjak banyak yang mengalami kendala.
Kendala itu, menurut dia, bisa dipengaruh beberapa faktor, seperti muatan berat, kondisi kendaraan kurang prima dan faktor driver/sopir.
Ia yakin, kalau drivernya berpengalaman pasti sudah menguasai medan jalan tersebut.
Kata Aan, rencana awalnya pekerjaan itu PHO tanggal 19 Agustus 2025, namun karena ada penambahan pekerjaan longsoran, sehingga dilakukan adendum penambahan waktu sampai dengan tanggal 6 Desember 2025.
Proyek yang dikerjakan oleh kontraktor PT. Brantas Abipraya ini
dengan nilai kontrak sebesar Rp 114 miliar, yang sebelumnya Rp 107 miliar.
“Kita butuh tembok penahan dan pembersihan longsoran.
Saat ini, kami lagi proses usulan penambahan anggarannya. Harapannya, kita selesai sesuai target,” cetusnya.
Menyinggung progres fisik 4 paket singel years yang dikerjakannya tahun ini, jawab Aan, rata-rata progres fisiknya 45 persen karena baru terkontrak Mei 2025.
Empat paket singel years tersebut, yaitu paket penanganan longsoran di Simpang III Waemata – Malawatar, Kecamatan Lembor dengan nilai kontrak Rp 1,7 miliar.
Proyek yang dikerjakan oleh kontraktor PT.Anugrah Nuansa Kasih (ANK) itu, progres fisiknya sampai dengan 1 September 2025 sudah mencapai 56 % dengan realisasi keuangan 52 %.
Berikutnya, paket
penanganan longsoran ruas jalan Ruteng – Reo – Kedindi dikerjakan oleh kontraktor PT.Floresco dengan nilai kontrak sebesar Rp 24 M.
Di ruas jalan ini ada 2 titik longsor yang ditangani dengan progres fisik hingga 1 September 2025 sudah mencapai 33,09 % dan realisasi keuangan 35 %.
Selanjutnya, paket penanganan longsoran ruas jalan Kota Ruteng – KM 210 dikerjakan oleh PT.Menara dengan nilai kontrak Rp 54 M.
Progres fisik hingga 1 September 2025 sudah mencapai 41 % dengan realisasi keuangan 27 %.
Terakhir, paket penanganan longsoran dan preservasi ruas jalan KM 210 – Batas Kabupaten Ngada yang berbatasan dengan Satker PJN Wilayah IV dengan nilai kontrak Rp 11 M.
Progres fisik sampai dengan tanggal 1 September 2025 sudah mencapai 46,11% dengan realisasi keuangan 46,04%.
Marandius juga memastikan, semua lubang jalan nasional yang dilewati Tour de EnTeTe di PJN Wilayah III sampai tanggal 4 September 2025 semuanya sudah tertutup.
Khusus di lokasi longsor, ia akan memasang pagar pengaman, sehingga para peserta Tour de EnTeTe tidak kelihatan kaget. (red)



