Categories Humaniora

Gubernur Melki Soroti Beban Ganda Nakes Pascagempa

KUPANG, NTT PEMBARUAN.id – Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena memberi perhatian khusus kepada para tenaga kesehatan yang sejak awal berada di garis depan penanganan dampak gempa Flores. Di tengah kerusakan berbagai fasilitas kesehatan dan situasi darurat yang serba terbatas, para tenaga kesehatan tetap bertahan untuk memastikan pelayanan bagi masyarakat terdampak tidak terhenti.

Data BPBD Provinsi NTT per 4 September 2026 mencatat sebanyak 654 fasilitas pelayanan kesehatan terdampak akibat bencana tersebut. Selain itu, korban meninggal dunia akibat gempa dilaporkan sebanyak 129 orang, 1.816 orang mengalami luka-luka, dan 130.763 orang mengungsi.

Dalam kunjungannya ke berbagai titik lokasi pengungsian di Flores, Gubernur Melki Laka Lena mendapati sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Namun demikian para tenaga kesehatan tetap bertahan di garis depan, bahkan harus memberikan pelayanan dari tenda-tenda darurat.

Di Puskesmas Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, misalnya, dua hari pertama setelah gempa bumi 15 Agustus 2026 lalu, pelayanan kesehatan terpaksa dilakukan secara darurat di halaman puskesmas. Dengan memanfaatkan tenda pesta yang dipinjam dari masyarakat, para tenaga kesehatan tetap melayani warga yang membutuhkan pertolongan.

Para tenaga kesehatan tersebut juga merupakan bagian dari masyarakat yang terdampak bencana. Namun, di tengah situasi sulit yang mereka hadapi, mereka tetap menjalankan tanggung jawab untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tidak terhenti.

Di tengah kondisi inilah, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena memberikan perhatian khusus kepada para tenaga kesehatan yang terus berjibaku memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak gempa.

Kita Harus Berdiri Lebih Tegak

Saat berdialog dengan para tenaga kesehatan yang bertugas di Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Rabu (27/8/2026) lalu, Gubernur Melki menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan yang tetap memilih bertahan dan menjalankan tugas pelayanan di tengah situasi bencana.

Menurut Gubernur Melki, para tenaga kesehatan menghadapi beban ganda. Mereka turut merasakan dampak bencana sebagai bagian dari masyarakat, namun pada saat yang sama tetap dituntut menjalankan tugas profesional untuk memastikan masyarakat yang membutuhkan pertolongan mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Tetap semangat. Biar kita juga termasuk yang terdampak, tapi kita harus berdiri lebih tegak dari masyarakat,” ujar Gubernur Melki.

Keselamatan pasien dan tenaga kesehatan menurut Gubernur Melki Laka Lena harus tetap menjadi prioritas. Namun, di tengah keterbatasan fasilitas akibat bencana, pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus tetap berjalan.

“Untuk keselamatan bersama, sementara kita bertahan di tenda dulu untuk urusan pasien. Pastikan urusan kesehatan masyarakat tetap terlayani dengan baik,” tegasnya.

Perhatian Gubernur Melki terhadap tenaga kesehatan kembali ditegaskan dalam rapat koordinasi bersama Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan jajaran terkait mengenai langkah penanganan sektor kesehatan pascagempa Flores, Rabu (2/9/2026).

Salah satu hal penting yang menjadi perhatian Gubernur Melki adalah penguatan layanan trauma healing dan dukungan kesehatan mental, tidak hanya bagi masyarakat terdampak secara langsung, tetapi juga bagi tenaga kesehatan yang terus bertugas selama masa tanggap darurat.

Melki Laka Lena menegaskan bahwa penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan pemulihan kondisi fisik, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat dan para petugas yang berada di lapangan.

“Trauma healing jangan hanya diberikan kepada masyarakat yang menjadi korban. Tenaga kesehatan kita juga harus mendapat perhatian. Mereka bekerja sejak awal bencana, menghadapi situasi yang berat, melayani pasien dan masyarakat, sementara mereka sendiri juga bisa mengalami kelelahan secara fisik maupun mental,” ujar Melki.

Menurutnya, tenaga kesehatan merupakan salah satu kelompok yang berada di garis depan penanganan bencana. Mereka harus tetap memberikan pelayanan meskipun fasilitas kesehatan terdampak, kondisi kerja berubah, dan kebutuhan pelayanan masyarakat meningkat.

Karena itu, Gubernur secara khusus meminta Dinas Kesehatan Provinsi NTT memastikan adanya pendampingan psikologis secara berkala bagi tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah terdampak. Pendampingan tersebut dapat dilakukan melalui psikolog, konselor, maupun tim kesehatan jiwa yang diterjunkan ke lapangan.

Pemprov NTT Terjunkan 665 Relawan dan Siapkan Penguatan Layanan Kesehatan

Sementara itu, selama masa tanggap darurat, Dinas Kesehatan Provinsi NTT terus memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak melalui mobilisasi tenaga kesehatan dan relawan ke berbagai wilayah terdampak.

Sebanyak 665 relawan yang tergabung dalam 42 tim telah diterjunkan ke sejumlah titik pelayanan kesehatan di kabupaten-kabupaten terdampak. Para relawan tersebut terdiri atas tenaga kesehatan dan tenaga nonkesehatan yang bekerja bersama mendukung pelayanan bagi masyarakat.

Selain mobilisasi tenaga, Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Kesehatan juga telah melakukan pengiriman obat-obatan dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) ke wilayah terdampak.

Dukungan lainnya meliputi distribusi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil, serta pendistribusian pita Lingkar Lengan Atas (LILA) untuk mendukung pemantauan kondisi kesehatan dan gizi kelompok rentan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar tetap tersedia, terutama bagi masyarakat yang masih berada di lokasi pengungsian dan wilayah-wilayah yang terdampak bencana.

Untuk memperkuat penanganan sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi NTT juga telah menyiapkan sejumlah usulan program yang akan didukung melalui dana Bantuan Presiden sebesar Rp40 miliar yang dialokasikan bagi Pemerintah Provinsi NTT dalam penanganan gempa Flores.

Sejumlah program yang diusulkan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat terdampak meliputi:

  1. Total usulan pembiayaan untuk mendukung berbagai program tersebut mencapai Rp1.866.100.400.

 

Bagi Gubernur Melki, penanganan kesehatan di masa tanggap darurat dan pascagempa tidak hanya berbicara tentang obat-obatan, fasilitas kesehatan, dan pelayanan pasien. Di balik seluruh upaya tersebut, terdapat para tenaga kesehatan yang setiap hari berdiri di garis depan untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pertolongan.

Karena itu, pelayanan bagi masyarakat harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap mereka yang memberikan pelayanan. Para tenaga kesehatan yang menjaga masyarakat di tengah bencana juga harus dipastikan mendapatkan dukungan, perlindungan, dan pendampingan yang mereka butuhkan. (ris)

OLEH

Selalu update berita terbaru kami di Google News dan What's App.

KUPANG Ramalan Cuaca

Berita Lainnya