KUPANG, NTT PEMBARUAN.id – Sebanyak 23 tim paduan suara ambil bagian dalam Lomba Paduan Suara Simfoni Persaudaraan GMIT 2026 yang dibuka Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 7-9 Oktober 2026, ini mengusung tema “Menyanyikan Kasih Setia Tuhan pada Segala Waktu” berdasarkan Mazmur 89:2-3, dengan subtema “Nyanyian yang Menyembuhkan: Gereja Bernyanyi sebagai Kesaksian Iman di Tengah Dunia yang Membutuhkan Pemulihan”.
Ketua Umum Pelaksana Simfoni Persaudaraan GMIT 2026, Jefri Pelt, dalam laporannya menyampaikan bahwa pesta paduan suara ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan Majelis Sinode GMIT.
Dalam sambutannya, Johni menegaskan bahwa nyanyian gereja tidak boleh berhenti pada keindahan suara dan harmoni. Nyanyian harus menjadi kekuatan yang meneguhkan iman, merekatkan persaudaraan, dan menghadirkan pengharapan bagi sesama. Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah tersebut, dan menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan situasi masyarakat saat ini.
“Nyanyian yang lahir dari iman dapat memberikan kekuatan, menghadirkan penghiburan, membangkitkan pengharapan dan menyatukan hati,” ujarnya.
Johni menjadikan paduan suara sebagai gambaran kehidupan masyarakat NTT. Suara sopran, alto, tenor, dan bas memiliki karakter berbeda, tetapi ketika disatukan justru melahirkan harmoni yang indah. Menurutnya, masyarakat NTT yang beragam suku, budaya, dan tradisi juga dapat menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan alasan untuk terpecah.
“Kita tidak hanya ingin mendengar suara yang merdu, tetapi juga merasakan persaudaraan yang hidup melalui nyanyian,” tegasnya.
Karena itu, Simfoni Persaudaraan GMIT dinilai bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang untuk memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman NTT.
Johni juga menekankan peran gereja dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Gereja, katanya, dipanggil untuk ikut memulihkan hati, hubungan antarsesama, kehidupan sosial, dan harapan. Pesan kasih yang dinyanyikan di gereja pun diharapkan terwujud dalam tindakan nyata.
“Hidupkan nyanyian kasih itu dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian kepada sesama, pelayanan, menjaga persaudaraan dan merawat lingkungan,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan daerah tidak cukup berbicara soal infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.
“Pembangunan bukan hanya tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang manusia, iman, karakter, persaudaraan dan kehidupan sosial yang harmonis,” ujarnya. Pemerintah Provinsi NTT, lanjut Johni, akan terus membuka ruang kolaborasi dengan gereja dan seluruh elemen masyarakat.
Kepada para peserta, Johni berpesan agar mengikuti lomba dengan sukacita dan memberikan penampilan terbaik tanpa melupakan makna utama kegiatan.
“Menang dan kalah adalah bagian dari perlombaan, tetapi persaudaraan yang kita bangun hari ini harus tetap tinggal dan menjadi berkat bagi kita semua,” pesannya. Ia berharap setiap lagu yang dinyanyikan menjadi kesaksian bahwa kasih setia Tuhan senantiasa hadir dalam setiap keadaan.
Pembukaan turut dihadiri Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia Nomleni; Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus; Ketua Majelis Sinode GMIT, Samuel Pandie; dan Wali Kota Kupang, Christian Widodo. (ris)




