Categories Opini

Ketika Prapaskah dan Ramadan Mengajarkan Bangsa Ini untuk Memaafkan

Oleh: Gilberto A. Moruk,SH

Bulan ini menghadirkan sebuah perjumpaan yang indah dalam kehidupan spiritual bangsa Indonesia. Umat Katolik sedang menjalani Masa Prapaskah, sementara umat Islam menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Dua tradisi iman yang berbeda ini pada dasarnya mengajarkan pesan yang sama menahan diri, membersihkan hati, dan memperbaiki relasi dengan Tuhan serta sesama manusia.

Di tengah suasana spiritual tersebut, ruang publik nasional sempat diwarnai polemik mengenai ijazah Mantan Presiden Joko Widodo dan Putranya Gibran Rakabuming Raka. Polemik ini melibatkan berbagai pernyataan yang kemudian memicu perdebatan luas di masyarakat.

Salah satu tokoh yang terlibat, Rismon Sianipar, pada akhirnya menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya.

Pada saat yang sama, sikap lapang untuk memberi maaf juga ditunjukkan oleh Joko Widodo dan putranya, Gibran Rakabuming Raka. Di tengah riuhnya perdebatan publik, peristiwa ini justru memperlihatkan sisi lain dari kehidupan manusia, kemampuan untuk merendahkan hati dan memulihkan hubungan.

Bagi sebagian orang, polemik ini mungkin hanya dipandang dari perspektif politik atau hukum.

Namun jika dilihat dari sudut pandang iman, ada pelajaran kemanusiaan yang jauh lebih dalam. Kita diingatkan bahwa manusia bisa saja keliru, tetapi manusia juga memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri.

Kitab Suci dalam tradisi Kristiani menegaskan pentingnya sikap saling mengampuni. Rasul Paulus menulis

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu juga wajib saling mengampuni.” (Kolose 3:13).

Pesan serupa juga diajarkan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf 7:199)

Bahkan dalam ayat lain ditegaskan:

Hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni kamu?” (QS. An-Nur 24:22)

Baik Alkitab maupun Al-Qur’an berbicara dalam nada yang sama, manusia dipanggil untuk belajar memaafkan.

Oleh karena itu, jika peristiwa yang terjadi di ruang publik ini dilihat dari kacamata spiritual, kita sebenarnya sedang menyaksikan dua tindakan yang sama-sama mulia. Di satu sisi ada kerendahan hati untuk meminta maaf.

Di sisi lain ada kebesaran hati untuk memberi maaf.

Meminta maaf bukanlah tanda kelemahan.

Justru sering kali dibutuhkan keberanian besar untuk mengakui bahwa kita pernah keliru.

Demikian pula memberi maaf bukanlah tanda kekalahan, melainkan bukti kedewasaan hati yang mampu melampaui ego.

Masa puasa, baik dalam Prapaskah maupun Ramadan sebenarnya tidak hanya berbicara tentang menahan lapar dan haus. Puasa adalah latihan rohani untuk menahan amarah, meredam ego, dan membersihkan hati dari dendam.

Dalam suasana seperti ini, peristiwa yang terjadi di ruang publik dapat menjadi cermin bagi kita semua.

Ia mengingatkan bahwa pada akhirnya kita semua hanyalah manusia ciptaan Tuhan yang tidak luput dari salah, tetapi selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bangsa yang dewasa bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan pendapat.

Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang warganya masih mampu mengakui kesalahan, berani meminta maaf, dan dengan tulus memberi pengampunan.

Ketika Prapaskah dan Ramadan bertemu, kita diingatkan bahwa iman sejati tidak hanya diukur dari banyaknya doa dan ibadah, tetapi juga dari kemampuan manusia untuk merendahkan hati dan memuliakan sesamanya.

Pada akhirnya, meminta maaf membutuhkan kerendahan hati dan memberi maaf membutuhkan kebesaran hati. (***)

OLEH

Selalu update berita terbaru kami di Google News dan What's App.

KUPANG Ramalan Cuaca

Berita Lainnya