Oleh : Maria Selastri Seda, mahasiswa semester V Teknologi Pakan Ternak, Politani Kupang
Babi merupakan hewan omnivora dimana dapat memakan berbagai jenis makanan, baik tumbuhan maupun hewan.
Dalam bidang peternakan, babi dipelihara untuk menghasilkan daging dan olahan lainnya.
Menurut kebiasaan di masyarakat, mereka memelihara babi kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Untuk mempercepat proses pertumbuhannya, dibutuhkan pakan yang sesuai kebutuhan ternak, dimana harus mengandung sumber energi, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air sesuai fase pertumbuhan babi.
Pakan adalah sesuatu yang dapat dimakan dan dicerna oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pakan yang diberikan pada ternak babi berupa pakan lokal hasil pertanian dan bisa juga pakan komersial hasil produksi pabrik pakan dengan formulasinya sesuai kebutuhan ternak.
Sementara, pakan lokal yang biasa dimakan babi seperti jagung, dedak, sorgum, ampas tahu, sayur- sayuran termasuk
pakan komplit yang telah diproduksi dari pabrik pakan sesuai dengan formulasi kebutuhan ternak.
Efek dari pemberian pakan yang tidak seimbang pada ternak babi, baik dari segi energi, protein, vitamin maupun mineral dapat memperhambat pertumbuhannya.
Dari hasil pengamatan penulis di lapangan, praktek pemberian pakan yang tidak seimbang sering dilakukan oleh para peternak babi di Wilayah Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dari hasil wawancara dengan para peternak babi, mereka mengaku, sering memberi pakan sisa hasil limbah rumah tangga dan pakan lokal seperti batang pisang dan sayuran sisa tanpa memperhatikan nilai gizi dari pakan tersebut.
Pemberian pakan yang tidak seimbang itu dapat berdampak pada peternak babi itu sendiri, dimana babi mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh, dan kurangnya produktivitas.
Dampaknya, peternak dirugikan karena nilai jualnya menurun, tidak seimbang dengan biaya pemeliharaan yang dikeluarkan atau ibarat besar pasak dari tiang (pengeluaran lebih besar daripada pemasukan).
Pemberian pakan yang tidak seimbang akibat kurangnya pengetahuan masyarakat peternak dalam hal kebutuhan gizi yang diperlukan setiap fase pertumbuhan babi.
Kebiasaan para peternak memberikan pakan seadanya karena keterbatasan modal untuk membeli pakan komersial, dan minimnya pengetahuan manajemen peternakan.
Masalah seperti ini sering terjadi kapan saja selama peternak tersebut masih dalam proses pemeliharaan babi. Dalam proses pemeliharaan ternak, kita harus mengetahui fase hidup dari babi tersebut agar dapat memberikan pakan sesuai dengan kebutuhannya.
Pemberian pakan yang tidak seimbang tanpa memperhatikan nilai gizi pada babi dapat memperhambat pertumbuhannya.
Pemberian pakan hasil limbah rumah tangga selain tidak memenuhi kebutuhan nutrisi pada babi dapat juga berdampak pada kesehatan babi dimana sisa limbah rumah tangga atau makanan sisa yang diberikan sudah basi atau terkontaminasi oleh bakteri, sehingga mengakibatkan gangguan pencernaan, diare, bahkan dapat mengakibatkan keracunan.
Daging babi merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi.
Namun, jika daging babi berasal dari ternak yang sakit, terkontaminasi bakteri, dan mengkonsumsi pakan yang mengandung bahan kimia, maka daging yang dikonsumsi akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia.
Daging yang dikonsumsi dapat membuat kita keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri seperti salmonella dan ecoli, pakan yang mengadung bahan kimia juga seperti antibiotik atau hormon pertumbuhan yang masih tersisa di dalam daging dapat berpengaruh pada tubuh manusia.
Dalam pemberian pakan, sebaiknya kita harus memperhatikan nilai gizi dan nutrisi dari pakan tersebut, sehingga pada saat memberikan pakan nutrisi yang dibutuhkan ternak dapat terpenuhi. Dalam pemberian pakan komersial, kita juga harus memperhatikan nilai gizi dan komposisi dari pakan tersebut, jangan sampai dalam pakan tersebut terdapat bahan kimia yang dapat berpengaruh terhadap tubuh ternak.
Sebaiknya jika ingin memberikan pakan berupa sisa limbah rumah tangga harus dimasak terlebih dahulu, untuk membunuh bakteri yang ada dalam makanan sisa tersebut ditambah dengan sayuran atau bahan lainnya agar bisa mengimbangi nutrisi yang di butuhkan.
Kebanyakan masyarakat yang memberikan pakan sisa limbah rumah tangga karena kekurangan biaya untuk membeli pakan komersial. Sebab, harga pakan komersial lebih mahal dibandingkan dengan limbah rumah tangga dan pakan lokal lainnya yang mudah didapat dimana saja.
Itu semua karena pengetahuan masyarakat masih minim tentang pola pemberian pakan yang bernilai gizi pada ternak.
Karena itu, dibutuhkan sosialisasi tentang pemberian pakan yang sehat dan bernutrisi pada ternak, sehingga masyarakat, khususnya para peternak memahami kebutuhan nutrisi dari ternak itu sendiri.
Sosialisasi itu, bisa dari pemerintah, dalam hal ini, Dinas Peternakan di wilayah kerjanya masing-masing atau mahasiswa/i jurusan peternakan. (***)




