KALABAHI, NTT PEMBARUAN.id- Air adalah sumber kehidupan yang menghidupi semua mahluk hidup di bumi, baik manusia, hewan, tumbuh tumbuhan termasuk semua jenis tanaman pertanian.
Berdasarkan data Tahun 2023, jumlah rumah tangga petani di NTT sebanyak 873.096 rumah tangga.
Jumlah ini merupakan klise dari penduduk miskin di NTT yang menempati urutan ketiga termiskin di Indonesia.
Namun di sisi lain, NTT memiliki potensi alam yang cukup subur, dimana masih banyak lahan tidur hampir tersebar di semua pedesaan di NTT.
Melihat realita itu, Calon Gubernur NTT Nomor Urut 3, Simon Petrus Kamlasi (SPK) saat melakukan safari politik di Kabupaten Alor, Jumat (4/10/2024) tergugah hatinya untuk mengelola potensi alam yang subur itu secara optimal.
“Kuncinya hanya satu, kita bangun air sebanyak – banyaknya ,” kata Jenderal Bintang Satu itu.
Menurut ‘Jenderal Air’ itu, program pengadaan bibit, pupuk, alat mesin pertanian (Alsintan) tidak akan efektif jika tidak ada air sebagai infrastruktur dasar dalam pembangunan pertanian.
“Hal utama yang kita buat adalah membangun air. Sumur bor, sumur gali atau air permukaan yang ada di dataran rendah akan kita dorong ke atas dengan teknologi yang saya buat sendiri yakni pompa hidram,” jelas SPK.
Setelah masalah air terurai, maka lahan tidur akan dibuka dengan Alsintan yang modern.
“Ini akan membutuhkan tenaga kerja yang banyak mulai dari operator Alsintan hingga pengelolaan lahan dan lainnya. Kita dorong anak – anak yang masih menganggur. Jadi, lahan tidur dan orang yang masih tidur kita bangunkan untuk berperan aktif membangun pertanian,” tandas Putra Timor Kelahiran Bumi Cendana Wangi tersebut.
“Alat pertanian nantinya kita bikin sendiri, kita optimalkan potensi yang kita punya, anak – anak kita yang sekolah teknik kita libatkan. Ini bisa kita kerjakan. Mobil perang saja saya bisa buat apalagi cuman Alsintan,” tukasnya.
Calon Gubernur yang telah membangun lebih dari 400 titik air di NTT dengan menggunakan teknologi pompa hidram itu mengatakan, sistem pengairan di lokasi pertanian juga akan menggunakan teknologi.
“Pilot project-nya sudah saya kerjakan di Kupang. Saya di Alor, tapi saya bisa pantau tanaman saya di Kupang yang kelembabannya kurang bisa saya siram dari sini,” ungkap SPK.
Dia menjelaskan, ketika kegiatan bertani sudah dilakukan secara modern maka anak – anak muda pun akan tertarik untuk bertani.
Kegiatan pertanian, lanjut SPK, tidak berhenti sampai di situ, akan diintegrasikan dengan peternakan.
“Kita akan buat mesin pencacah pakan dan mesin pembuat pelet untuk ternak.
Tanaman jagung akan dimanfaatkan seutuhnya, biji jagung bisa diolah menjadi makanan bahkan cemilan yang bernilai ekonomis. Sedangkan, tongkol, batang, dan daun jagung akan diolah menjadi pakan ternak,”urainya.
Selanjutnya, ia mengatakan, masyarakat bisa budidaya ayam pedaging dan petelur untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus meningkatkan ekonomi.
Dengan demikian, tambah dia, banyak tenaga kerja produktif akan terserap, anak – anak muda yang menyelesaikan pendidikan tidak hanya berorientasi menjadi ASN saja, tetapi bisa menjadi petani muda, peternak dan pengusaha di bidang pertanian. (red/*)



