KUPANG, NTT PEMBARUAN.id – Pada Juli 2024, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi sebesar 0.32% dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur (BPS NTT), Matamira B. Kale, S.Si., M.Si kepada wartawan di Aula BPS NTT, Kamis (1/8/2024).
Pada bulan Juli yang menyumbang inflasi secara umum terdiri atas pakaian dan alas kaki sebesar 0,10%, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,3%, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,10%, penyediaan makanan dan minuman (restoran) sebesar 0,6%, kesehatan 0,8%, transportasi 0,22% serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,15%.
Sementara sektor makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang deflasi tertinggi di bulan Juni dibanding bulan sebelumnya dengan nilai 1,11% diikuti sektor pendidikan 0,81%, rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,21%.
Harga bawang merah yang sedang masa panen turut menyumbang deflasi sebesar sebesar 0,2133% diikuti komoditas tomat 0,2000%, kangkung 0,0350%, cabai rawit 0,0324% dan bawang putih 0,0321% yang saat ini sudah kembali harga normal.
Sementara itu, ikan kembung menjadi penyumbang inflasi terbesar di bulan Juli sebesar 0,0437% diikuti jeruk nipis sebesar 0,0236%, angkutan udara sebesar 0,0212%, beras sebesar 0,0194% dan bunga pepaya sebesar 0,0181%.
Terkait beras, Matamira mengatakan, bakal akan terjadi kenaikan harga.
Oleh sebab itu, pihaknya mengingatkan berbagai pihak yang berwenang untuk mengantisipasi harga beras beberapa bulan ke depan. (ris)



