Categories Opini

Pentingnya Pendidikan Karakter di Era Modern

Oleh: Rosalia Gajung, Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Undana.

Kalau melihat pendidikan di era sekarang, sulit untuk menyadari satu hal yaitu nilai masih menjadi pusat dari segalanya. Dari ujian harian sampai ujian akhir, dari peringkat kelas sampai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) semuanya seolah menjadi penentu utama apakah seseorang dianggap berhasil atau tidak. 

Bahkan, tidak jarang rasa percaya diri siswa ikut naik turun karena nilai. Namun api jika dipikir, semakin terasa ada yang kurang. Apakah benar nilai yang tinggi cukup untuk menghadapi kehidupan di era modern yang serba cepat, kompleks, dan penuh tantangan? Atau kita terlalu lama terjebak pada ukuran yang sebenarnya tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas seseorang?

Realitas di sekitar memberi jawaban yang cukup jelas. Kita sering melihat kasus korupsi yang melibatkan orang-orang dengan pendidikan tinggi. Mereka bukan orang yang tidak paham aturan. Mereka tahu mana yang benar, bahkan mungkin pernah belajar tentang etika dan hukum. Tetap saja keputusan yang diambil justru merugikan banyak orang. Dari situ terlihat bahwa pengetahuan saja tidak cukup, ada sesuatu yang hilang yaitu karakter.

Di lingkungan sekolah sendiri, persoalan lain juga sering muncul, dan kadang dianggap biasa. Seperti perundungan atau bullying. Ada siswa yang terus-menerus dijadikan bahan ejekan hanya karena penampilan, cara berbicara atau kondisi ekonomi juga.

Awalnya mungkin dianggap becanda, tapi lama-lama berubah menjadi tekanan nyata. Yang lebih mengkhawatirkan, sering kali orang di sekitar memilih diam. Seolah-olah itu bukan masalah besar. Padahal, dampaknya bisa sangat dalam.

Korban bisa kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dari lingkungan, bahkan merasa tidak nyaman berada di sekolah tempat yang seharusnya aman untuk belajar.

Fenomena lain juga tidak kalah menganggu, misalnya sikap kurang disiplin yang dianggap sepele seperti datang terlambat, mengabaikan tanggung jawab, atau tidak menepati janji atau dalam kerja kelompok ada yang memilih tidak berkontribusi sama sekali, tetapi tetap ingin hasil yang sama. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat kecil, tapi kalau terus terjadi, perlahan membentuk kebiasaan.

Dari pelbagai contoh itu, terlihat masalahnya bukan pada kurangya pengetahuaan. Banyak orang tahu apa yang benar. Tapi tidak semua orang melakukannya.

Di sinilah pendidikan karakakter menjadi sangat penting. Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan nilai-nilai secara teori. Bukan hanya tahu apa itu jujur, disiplin atau tanggung jawab. Lebih dari itu pendidikan karakter adalah proses membiasakan membentuk sikap melalu tindakan yang dilakukan berulang-ulang, sampai akhirnya menjadi bagian dari diri seseorang. Proses ini jelas tidak instan.

Sekolah memang memiliki peran besar dalam hal ini. Melalui aturan, kegiatan, dan intereaksi sehari-hari siswa belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan saling menghargai tapi waktunya terbatas.

Untuk itu peran orang tua di sini menjadi sangat penting. Anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tapi dari apa yang mereka lihat. Cara orang tua berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, bahkan cara memperlakukan orang lain itu semuanya diam-diam ditiru.

Misalnya, ketika orang tua membiasakan bersikap jujur, menepati janji, dan bertanggung jawab, anak-anak akan melihat itu sebagai sesuatu yang normal. Namun sebaliknya, jika anak terbiasa melihat ketidakonsisten mengatakan satu hal tapi melakukan hal lain maka nilai diajarkan bisa kehilangngan makna. Lingkungan sekitar juga punya peran yang tidak kalah besar.

Teman sebaya, masyarakat, bahkan dunia digital ikut membentuk cara berpikir dan bersikap. Di era modern seperti sekarang, medi sosial menjadi menjadi ruang baru yang sangat berpengaruh.

Kita bisa melihat bagaimana mudahnya orang saling menghujat di kolom komentar, atau menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya. Banyak yang lebih cepat bereaksi dari pada berpikir. Dalam situasi seperti ini, karakter menjadi semacam “penyaring“ yang membantu seseorang menentukan sikap di tengah arus informasi yang tidak selalu sehat. Tanpa karakter yang kuat, sangat mudah bagi seseorang terbawa arus.

Ada satu ungkapan yang mungkin sering kita dengar, “adab lebih tinggi daripada ilmu”. Mungkin terdengar sederhana, bahkan klise, tapi kalau dipikir lebih dalam, ungkapan itu justru semakin relevan di era modern ini.

Orang yang pintar, tapi tidak memiliki integritas, bisa saja menggunakan kemampuannya untuk hal-hal yang merugikan. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki karakter yang baik, ia akan lebih berhati-hati dalam menggunakan ilmunya.

Ada kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki dampak. Masalahnya, karakter tidak bisa dibentuk hanya dengan kata-kata tidak cukup dengan nasihat atau slogan. Ia membutuhkan contoh nyata keteladanan yang bisa dilihat dan dirasakan langsung.

Guru yang konsisten, orang tua menjadi panutan, dan lingkungan yang mendukung semua itu memiliki peran besar dalam membentuk karakter seseorang. Tanpa itu, pendidikan karakter hanya akan terdengar baik di atas kertas, tapi sulit lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu kembali bertanya, apa sebenarnya tujuan pendidikan? Apakah hanya menghasilkan siswa dengan nilai tinggi? Atau untuk membentuk manusia yang utuh yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu bersikap dengan bijak dalam kehidupan?

Karena di era modern ini, yang dibutuhkan bukan hanya orang-orang yang pintar, tapi juga orang-orang yang tahu bagaimana menggunakan kepintaran. Dan di situlah, pendidikan karakter menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi dianggap sekedar tambahan melainkan kebutuhan. Karena pada akhirnya yang diuji dalam hidup bukan cuma apa yang kita tahu. (*)

OLEH

Selalu update berita terbaru kami di Google News dan What's App.

KUPANG Ramalan Cuaca

Berita Lainnya